Abstrak
Pengujian Kandungan Merkuri dalam sediaan Kosmetik dengan Spektrofotometer Serapan Atom terhadap 11 merek sampel yang dianalisa semuanya positif mengandung merkuri dengan kadar antar rentang 0,43- 65,01mg/g. Merkuri yang digunakan pada krim pemutih wajah akan terserap melewati kulit muka dan akan ikut mengalir melalui peredaran pembuluh darah. Merkuri yang masuk ke dalam hati terbagi dua, sebagian akan terakumulasi pada ginjal dan selanjutnya akan dikirim ke empedu, kemudian akan di kirim lewat darah dan ginjal. Pada ginjal senyawa merkuri akan terakumulasi pada ginjal dan sebagian lagi akan di buang bersama urine. Tujuan penelitian untuk mengetahui ada atau tidaknya merkuri dalam urine pengguna krim pemutih wajah, nalisis data disajikan dalam bentuk tabel dan dibahas secara deskriptif. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan tentang identifikasi merkuri pada urine dari pengguna krim pemutih dengan uji reaksi warna terhadap 4 sampel yang diperiksa sampel A, C, dan D positif mengandung merkuri dan sampel B negatif mengandung merkuri.
Kata kunci: Merkuri, Urine, Uji Reaksi Warna.
- Pendahuluan
Sejak berabad-abad yang silam kosmetik sudah dikenal manusia berdasarkan naluri alamiahnya yang senantiasa ingin tampil cantik. Mereka senantiasa bereksperimen menemukan cara yang tepat untuk menonjolkan kecantikan tubuhnya dengan berbagai upaya yang dilakukan manusia khususnya wanita untuk merawat dan mempercantik diri (Muliyawan & Suriana, 2013).
Dwikarya (2003) mengatakan penggunaan kosmetik yang berlebihan akan merugikan jika pengolahanya kurang baik, penggunaan bahan yang tidak tepat, atau penyimpanan yang tidak higienis. Reaksi kulit terhadap kosmetik terjadi jika kita peka terhadap salah satu bahan baku kosmetik. Reaksi tersebut akan menimbulkan kelainan. Salah satu kelainan pada kulit yang terjadi adalah iritasi kulit. Kulit akan mengalami iritasi, biasanya setelah pemakaian kosmetik. Kelainan yang terjadi berupa kulit kemerahan, biasanya terasa panas, perih, dan kadang-kadang permukaanya berair. Reaksi fotosisntesis juga dapat terjadi akibat pemakaian kosmetik. Keadaan reaksi fotosintesis seperti alergi, tetapi baru terasa gejalanya jika terkena sinar matahari. Kelainanya berupa rasa gatal, bercak merah, dan kadang-kadang menyebabkan bintik kehitaman yang dikenal dengan sebutan hyperpigmentasi (Dwikarya, 2003)
Hyperpigmentasi kulit dapat diatasi dengan menggunakan produk-produk pencerahan kulit. Bahan-bahan pencerahan kulit meliputi hidrokuinen, merkuri bahan- bahan dari alam seperti kijid acid, melatonin, glycolic acid, alocsin, niacinamide. azelaic acid, dan bahan lain seperti retinoid (Draelos, 2005). Menurut badan pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) berdasarkan publik warning peringatan Nomor KH.00.01.43.2503 tanggal 11 Juni 2009 tentang kosmetik mengandung bahan berbahaya bahan dilarang digunakan yaitu Hidrokuinon, Asam Retinoat, Zat Warna Merah K.3 (CI 15585), Merah K.10 (Rhodamin B), Jingga K.1 (C1 12075), dan Merkuri (BPOM, 2009).
Merkuri termasuk logam berat yang berbahaya, yang dimana konsentrasi kecil pun dapat bersifat racun. Pemakaian merkuri dalam krim pemutih dapat menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit yang pada akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, iritasi kulit, alergi, iritasi serta pemakaian dengan dosis tinggi dapat menyebabkan kemunduran fungsi otak. Kemunduran tersebut dapat mengalami gangguan pada korteks. Keracunan kronis karena terpapar olch garam-param merkuri, baik yang masuk dalam tubuh, karena terhisap atau tertelan akan mengakibatkan terjadi kerusakan pada hati dan ginjal (Palar, 2008)
- PEMBAHASAN
http://jurnal.ensikloppediacu.org
Hasil analisis yang dilakukan di laboratorium pada sampel urine A, C, D menggunakan pereaksi Kalium Iodida dengan pengulangan tiga kali menunjukkan pada sampel urine A, C, dan D tersebut positif mengandung merkuri yaitu ditandai dengan terbentuknya warna kuning. Menurut (Daniaty, 2014) warna kuning yang terbentuk menandakan kadar merkuri berkisar 50 µg/ml dan jika warna jingga yang terbentuk menandakan kadar merkuri berkisar 100 µg/ml, dimana endapan jingga yang terbentuk merupakan endapan dari Hg12.
Pengujian yang dilakukan dengan menggunakan batang tembaga atau Cu pada sampel urine A, C, dan D juga menunjukkan hasil positif, dimana pada batang tembaga Cu tersebut terbentuk lapisan amalgam berwarna abu-abu. Pengujian dengan batang tembaga atau Cu yang telah diamplas dan dicelupkan dalam larutan tes yang telah diasamkan akan memberikan deposit berbetuk perak mengkilat atau abu-abu. Metode terakhir yang dipakai untuk memastikan hasil merkuri yang terdapat pada sampel urine A, C, dan D yaitu menggunakan larutan campuran Natrium Sulfat – Kalium lodida dan Tembaga II Sulfat. Hasil yang didapat pada sampel A, C, dan D tersebut terbentuk warna merah jingga, dimana warna merah jingga tersebut menunjukkan sampel positif mengandung merkuri.
Analisa pada sampel urine B dilakukan pengujian dengan penambahan Kalium lodida dan hasil yang diperoleh terbentuk warna jernih, kemudian pengujian dilanjutkan dengan menggunakan batang tembaga dan di dapatkan hasil pada batang tembaga tersebut tidak terbentuk warna abu-abu yang dimana batang tembaga atau Cu yang telah diamplas dicelupkan dalam larutan yang telah diasamkan akan memberikan deposit berwarna abu-abu. Pengujian terakhir dilakukan dengan pengujian larutan campuran Natrium Sulfat- Kalium lodida dan Tembaga II Sulfat hasil yang didapat yaitu terbentuknya warna kuning jernih pada urine. Dari hasil pengujian dengan menggunakan 3 pereaksi yang diuraikan diatas, menunjukkan bahwa pada urine B tersebut tidak mengandung merkuri. Hasil negatif ini disebabkan karena pengguna krim pemutih kurang dari 3 tahun, hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Daniaty (2010) merkuri dalam urine pengguna krim pemutih lebih dari 3 tahun bisa terdeteksi lewat urine.
Nilai positif pada sampel urine A, C, dan D ini kemungkinan disebabkan oleh pemakaian merkuri yang terlalu lama, yang dimana pada sampel A dipakai oleh pengguna selama 4 tahun, pemakaian krim pemutih pada sampel C dipakai oleh pengguna selama 5 tahun, sedangkan pemakaian krim pemutih sampel D dipakai oleh pengguna selama 4 tahun. Penggunaan merkuri yang terlalu lama pada krim pemutih wajah dapat menimbulkan reaksi alergi pada kulit, bintik bintik hitam dan lama kelamaan zat merkuri tersebut akan masuk dalam tubuh dan mengendap di organ ginjal bisa mengakibatkan penyakit gagal ginjal (Palar 2008). Menurut (Rianto, 2010) merkuri yang digunakan pada krim pemutih wajah akan terserap melewati kulit muka dan akan ikut mengalir melalui peredaran pembuluh darah. Merkuri yang masuk ke dalam hati terbagi dua, sebagian akan terakumulasi pada ginjal dan selanjutnya akan dikirim ke empedu. Pada ginjal sebagian menetap di ginjal dan akan di buang bersama urine.
- PENUTUP
Dari hasil penelitian tentang identifikasi merkuri pada urine dari pengguna krim pemutih dengan uji reaksi warna terhadap 4 sampel yang dianalisa, terdapat sampel yang positif mengandung merkuri berjumlah 3 sampel yaitu sampel A.C.dan D Sedangkan yang negatif mengandung merkuri yaina terdapat pada sampel B. Untuk penelitian selanjutnya agar dapat melakukan penelitian tentang pemeriksaan markun (Hg) pada urine dengan menggunakan metode kuantitatif agar dapat mengetahui kadarnya, 21 Agar penelitian dapat melakukan penelitian tentang pemeriksaan merkuri (Hg) pada urine menggunakan sampel yang berbeda dan disarankan kepada masyarakat dapat lebih cermat dalam memilih prodak kosmetik yang aman untuk digunakan dan bebas dari merkuri
- DAFTAR PUSTAKA
Alfian, zul 2006. Merkuri Antara Manfaat dan Penggunaanyu Bagi Kesehatandan Lingkungan. Universitas Sumatera (Online)(repository: sau.ac.id/bitstream/123456789/708/1/08E00123.pdf. Medan
[BPOM RI]Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2009 Keputusa Kepala Badan POM RI No.KH.00.01.43.2503 Tentang Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya Bahan Di Larang(Online) http://www.pom.go.id/index.php/home/peingatan_publik-0-01-01-2000/24-10-
Daniaty, Listra 2014. Identifikasi Merkuri Pada Lotion Yang Beredar Di Pasar Blouran Kota Palangkarya. Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Palangkaryu
Sumber gambar : https://images.app.goo.gl/ZxcbbqmhYVgDFmTt7
Penulis :
Wiwin Sri Intan – FM22E – UBP Karawang
