Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, disebutkan bahwa standar pelayanan kefarmasian mencakup pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, bahan medis habis pakai, serta pelayanan farmasi klinik. Oleh karena itu, sistem pengelolaan obat di rumah sakit perlu mempertimbangkan aspek keamanan, efektivitas, dan efisiensi dalam penggunaannya, untuk mencapai efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan obat.

(Sumber gambar : https://sl.bing.net/bkBKBoIpins)
Anggaran untuk penyediaan obat berdasarkan resep menjadi salah satu komponen terbesar dalam pengeluaran rumah sakit. Di negara berkembang, biaya penyediaan obat bisa mencapai 40% hingga 50% dari total pengeluaran rumah sakit. Pembelian obat dalam jumlah besar untuk stok farmasi harus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan agar pengendalian biaya rumah sakit dapat dilakukan secara efektif.
Quick dkk (2014) menyatakan bahwa pengelolaan obat memiliki empat fungsi dasar, yaitu Proses Seleksi, Proses Pengadaan, Proses Penyaluran, dan Proses Pemakaian. Setiap tahapan dalam pengelolaan obat saling berhubungan dan saling mendukung. Agar pengelolaan obat dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien, setiap tahapan harus didukung oleh empat elemen manajemen: organisasi, administrasi keuangan, sistem informasi manajemen, dan sumber daya manusia.
Aplikasi Turn Over Ratio (TOR)
Aplikasi Turn Over Ratio (TOR) digunakan untuk mengukur seberapa sering investasi dalam stok obat berputar dalam setahun. TOR berfungsi untuk menilai efisiensi dalam manajemen obat, standar TOR yang umum digunakan berkisar antara 8 hingga 12 kali. Menurut Depkes RI (2008).

(Sumber gambar : https://sl.bing.net/kI6ZZNvLiIC)
Interpretasi:
- TOR tinggi : Mengindikasikan bahwa obat-obat di fasilitas kesehatan cepat terjual atau digunakan, yang berarti persediaan berputar dengan baik dan efisien. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan stok bekerja dengan baik, karena obat yang dibeli sesuai dengan kebutuhan yang ada.
- TOR rendah : Menunjukkan bahwa banyak obat yang tidak terjual atau tidak digunakan, yang dapat menyebabkan penumpukan stok. Hal ini bisa disebabkan oleh pembelian obat yang tidak sesuai dengan permintaan atau adanya kelebihan persediaan yang tidak terpakai, sehingga dapat menyebabkan pemborosan dan penurunan keuntungan.
Manfaat Aplikasi TOR dalam Pengelolaan Obat:
- Mengukur Efisiensi Stok Obat : Dengan mengetahui berapa kali obat berputar dalam setahun, pengelola rumah sakit atau apotek dapat menilai seberapa baik stok dikelola dan apakah ada kelebihan atau kekurangan persediaan.
- Menghindari Kelebihan Stok : TOR yang rendah menunjukkan bahwa ada kelebihan stok yang bisa menyebabkan pemborosan atau obat kedaluwarsa sebelum terpakai. Hal ini bisa diperbaiki dengan penyesuaian jumlah pembelian dan perencanaan yang lebih baik.
- Pengendalian Biaya : Dengan mengoptimalkan perputaran stok obat, rumah sakit atau apotek dapat mengurangi biaya penyimpanan dan menghindari kerugian akibat obat yang tidak terpakai atau kedaluwarsa.
- Meningkatkan Ketersediaan Obat yang Diperlukan : TOR yang baik membantu memastikan bahwa obat yang sering digunakan selalu tersedia, sementara obat yang kurang diminati tidak menumpuk dalam stok.
Kesimpulan
Proses seleksi manajemen obat telah disesuaikan dengan prevalensi penyakit yang ada. Pada proses pengadaan yaitu perencanaan anggaran dilakukan secara teratur setiap tahun. Dan pada proses distribusi yaitu Turn Over Ratio (TOR) tercatat memiliki frekuensi 6,2 kali per tahun, yang digunakan sebagai indikator efektivitas dalam sistem distribusi.Adanya stok obat yang kosong disebabkan oleh obat yang sudah dimasukkan dalam formularium tetapi tidak tersedia karena tidak ada permintaan atau proposal pembelian.Rumah sakit menerapkan sistem distribusi kombinasi dalam pengelolaan distribusi obat, dengan menggunakan Sistem Pendistribusian Dosis.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2008. Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit. Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI.
Satibi. 2016. Managemen Obat di Rumah Sakit. Yogyakarta: UGM
Quick, D.J., Hume, M.L, Raukin J.R, Laing, RO., O’Connor, R. W., 2014, Managing Drug Supply (2nd ed), Revised and Expanded, Kumarin Press, West Hartford
PENULIS : Yulistia Afta Nurhamidah – 22416248201050 – FM22C – Farmasi UBP Karawang
