Skip to content
Farmasi Digital

Farmasi Digital

Terbaru di Farmasi dan Teknologi Kesehatan

  • Home
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Artikel
    • Informatika Kesehatan
    • Edukasi Farmasi
    • Teknologi Digital Farmasi
    • Inovasi Farmasi
    • Review produk dan aplikasi
    • Riset dan Pengembangan
    • Opini
    • Wawancara
  • Kontak Kami
  • Toggle search form
  • PERAN TELEMEDICINE (PLATFORM HALODOC) SEBAGAI MEDIA INFORMASI KESEHATAN PADA MASA KINI Berita
  • Membangun Kepercayaan Pasien Melalui Platform Digital di Sektor Farmasi AI dalam Kesehatan
  • KEAMANAN DATA PASIEN DALAM SISTEM INFORMATIKA FARMASI Berita
  • Pemodelan Komputer dalam Penemuan Molekul Obat Alat dan Perangkat Farmasi
  • Telemedicine: Manfaat dan Implementasinya dalam Perkembangan Teknologi Informasi Kesehatan AI dalam Kesehatan
  • Aplikasi Blockchain dalam Distribusi Obat Uncategorized
  • Artificial Intelligence dalam Informatika Farmasi: Meningkatkan Akurasi dan Kecepatan Diagnosis AI dalam Kesehatan
  • Decision Support Systems for Drug Therapy Selection (Sistem Pendukung Keputusan untuk Pemilihan Terapi Obat) Pengembangan Obat Baru

Penerapan Sistem Informasi dalam Pelaporan Adverse Drug Reaction (ADR)

Posted on November 21, 2024November 21, 2024 By admin No Comments on Penerapan Sistem Informasi dalam Pelaporan Adverse Drug Reaction (ADR)

Pendahuluan

Pelaporan spontan mengenai reaksi obat yang merugikan (ADR) merupakan cara yang efektif untuk memastikan pengawasan pascapemasaran obat, dan tenaga kesehatan memainkan peran utama melalui pelaporan ADR secara sukarela.  Reaksi obat yang merugikan (Adverse Drug Reaction/ADR) salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang dapat meningkatkan beban pada layanan sistem kesehatan. Berdasarkan data pelaporan ADR global, sekitar 15 juta kasus telah dilaporkan sejak tahun 1957 hingga 2018. Namun, tidak semua negara berpartisipasi dalam pelaporan ini, sehingga diyakini jumlah sebenarnya jauh lebih besar daripada yang tercatat. Studi memperkirakan bahwa biaya perawatan rumah sakit akibat ADR mencapai sekitar US$570.400 per 1.000 pasien, dengan pengeluaran mencapai sekitar 5% dari total anggaran kesehatan di Singapura. Lebih dari 50% dari total kasus ADR diperkirakan dapat dicegah. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kejadian ADR adalah variabilitas respons obat antarindividu, yang sebagian besar disebabkan oleh perbedaan genetik. Variabilitas genetik ini juga dapat menyebabkan perubahan kadar obat hingga berada di bawah ambang terapeutik, yang pada akhirnya menghasilkan pengobatan yang tidak optimal (Jefman et al., 2023).

Read moreFarmasi dan Kecerdasan Buatan: Transformasi di Era Digital

Kurangnya pelaporan merupakan keterbatasan utama dari sistem notifikasi spontan, karena diperkirakan hanya 6–10% dari semua ADR yang dilaporkan. Di satu sisi, tingkat kurang pelaporan yang tinggi ini mencegah ADR untuk diukur guna menghitung dampaknya dalam hal kejadian dan risiko, dan di sisi lain, hal ini menunda aktivasi sinyal peringatan, dengan konsekuensi dampak pada kesehatan masyarakat. Penundaan dalam keputusan untuk membatasi penggunaan obat atau menghentikannyadapat mengakibatkan lebih banyak pasien yang terkena dampak.

Adverse reactions: Suggested questions | Medicines Learning Portal

Read moreDigital Farmasi; Transformasi Layanan Kesehatan di Era Digital

(Sumber : https://www.medicineslearningportal.org/2018/05/adverse-reactions-suggested-questions.html)

Evaluasi dimulai dengan meninjau riwayat penggunaan obat pasien, termasuk obat resep, non-resep, suplemen, atau herbal, serta memastikan apakah ada obat yang telah dihentikan dan kapan hal tersebut dilakukan. Riwayat medis pasien juga menjadi komponen penting untuk memahami kondisi kesehatan lain yang dapat memengaruhi reaksi obat, disertai identifikasi riwayat alergi atau reaksi obat sebelumnya. Tanda dan gejala spesifik yang dialami pasien harus dicatat, bersama dengan waktu munculnya reaksi terkait dengan pemberian obat. Faktor lain seperti bahan tambahan dalam obat (excipient) yang dapat memicu reaksi juga harus dipertimbangkan. Rencana manajemen kemudian dirancang untuk menangani reaksi ini, termasuk penghentian obat penyebab, pengobatan simptomatik, atau langkah preventif. Selain itu, penting untuk menentukan siapa saja yang perlu diberi tahu, baik pasien, keluarga, maupun tenaga kesehatan lain, guna memastikan tindak lanjut yang komprehensif dan aman. Panduan ini bertujuan untuk memberikan pendekatan yang sistematis dalam mengelola ADR dan memastikan keselamatan pasien.

Read moreRevitalisasi Penemuan dan Pengembangan Obat dengan Teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dalam Farmasi dan Farmakoinformatika

Fungsi

 Adverse Drug Reactions diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama: Reaksi Tipe A dan Reaksi Tipe B. Kedua jenis reaksi ini memiliki subkategori masing-masing. Meskipun tanda, gejala, dan waktu kemunculannya dapat membantu membedakan keduanya, sering kali ada tumpang tindih dalam manifestasi klinisnya.

Read moreREVOLUSI E-PRESCRIPTION DALAM MENINGKATKAN KEAMANAN DAN EFISIENSI PENGELOLAAN OBAT PADA TEKNOLOGI FARMASI DIGITAL

Reaksi Tipe A

Reaksi Tipe A adalah reaksi alergi yang disebabkan oleh sifat farmakologis obat yang sudah diketahui. Reaksi ini dapat terjadi pada siapa saja apabila diberikan dosis yang cukup. Reaksi Tipe A merupakan jenis ADR yang paling umum, mencakup sekitar 85% hingga 90% dari seluruh reaksi alergi terhadap obat. Reaksi ini dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berikut :

  1. Overdosis Obat
Read moreKecerdasan Buatan Terbaru Untuk Deteksi Kanker, Pengobatan dan Prediksi Keberlangsungan Hidup Pasien

Overdosis terjadi ketika obat dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan. Contoh ADR akibat overdosis meliputi gagal hati yang terjadi setelah overdosis asetaminofen, perdarahan serius setelah overdosis warfarin, dan depresi pernapasan yang disebabkan oleh overdosis oksikodon.

  1. Efek Samping

Efek samping adalah efek obat yang dapat diprediksi atau bergantung pada dosis, namun bukan efek utama yang diharapkan dari obat tersebut. Efek samping dapat bersifat menguntungkan, merugikan, atau tidak signifikan. Contoh ADR akibat efek samping termasuk gastritis yang disebabkan oleh penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), nefrotoksisitas setelah terapi aminoglikosida, diare akibat antibiotik, serta fototoksisitas yang dipicu oleh penggunaan doksisiklin.

  1. Interaksi Obat
Read morePERAN TELEMEDICINE (PLATFORM HALODOC) SEBAGAI MEDIA INFORMASI KESEHATAN PADA MASA KINI

Interaksi obat terjadi ketika suatu obat bereaksi dengan obat lain, makanan, minuman, suplemen, atau kondisi medis tertentu. Contoh ADR yang disebabkan oleh interaksi obat termasuk peningkatan kadar teofilin dalam tubuh akibat penggunaan antibiotik makrolida, penurunan efektivitas antikoagulan warfarin akibat konsumsi vitamin K dalam jumlah tinggi, dan depresi pernapasan yang terjadi akibat penggunaan kombinasi benzodiazepin dan opioid.

Reaksi Tipe B

  1. Reaksi Idiosyncratic
Read moreMENGINTEGRASIKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN FARMASI

Reaksi tipe B yang tidak dimediasi oleh mekanisme imunologi atau inflamasi disebut reaksi obat idiosinkratik. Reaksi ini dapat muncul karena anomali genetik (misalnya, hemolisis yang diinduksi dapson pada pasien dengan defisiensi G6PD) atau sensitivitas berlebihan pada dosis rendah (misalnya, tinitus setelah satu dosis aspirin).

  1. Reaksi pseudoalergi

Reaksi obat pseudoalergi menyerupai reaksi obat alergi; namun, reaksi tersebut tidak dipicu oleh mekanisme imunologis. Sering disebut sebagai “reaksi hipersensitivitas nonimun,” reaksi pseudoalergi muncul karena aktivasi langsung sel inflamasi. Secara khusus, Mas-Related G-Protein Coupled Receptor Member X2 terlibat dalam stimulasi sel mast langsung tanpa memerlukan aktivasi yang dimediasi IgE. Vankomisin secara langsung mengaktifkan degranulasi basofil dan sel mast, yang menyebabkan pelepasan dan pembilasan histamin. Menariknya, reaksi ini dapat dihindari dengan memperlambat laju infus vankomisin, yang mengendalikan laju pelepasan histamin.

Read moreRiliv : Aplikasi konseling yang menyediakan layanan tes kesehatan mental, konsultasi Psikolog, keuangan, nutrisi, self-care

Penanganan Adverse Drug Reactions

Mengubah dosis atau menghentikan obat penyebab adalah langkah paling penting dalam menangani reaksi berlebihan terhadap obat (ADR). Overdosis obat dapat terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja. Gejalanya bervariasi tergantung pada jenis obat, jumlah yang dikonsumsi, apakah toksisitasnya bersifat akut atau kronis, serta kondisi medis yang mendasari. Jika reaksi parah terjadi, langkah utama adalah memastikan jalan napas tetap terbuka dan sirkulasi darah terjaga. Penggunaan antidot tertentu seperti N-asetil sistein untuk overdosis asetaminofen atau nalokson untuk toksisitas opioid sangat penting. Konsultasi dengan pusat pengendalian racun atau ahli toksikologi diperlukan, terutama dalam kasus overdosis yang melibatkan kombinasi obat atau jumlah yang tidak diketahui.

Read moreOptimalisasi Terapi Farmakologi melalui Farmakoinformatika: Inovasi, Tantangan, dan Masa Depan

Urtikaria umumnya diobati dengan antihistamin seperti difenhidramin, cetirizin, levosetirizin, dan loratadin. Antagonis reseptor histamin-2 seperti ranitidin dapat memberikan manfaat tambahan. Dalam beberapa kasus, kortikosteroid seperti prednison dapat digunakan untuk membantu meredakan gejala. Pengobatan untuk erupsi obat eksantematosa meliputi penggunaan kortikosteroid topikal dan antihistamin oral untuk mengurangi gejala. Jika reaksi menyebar secara luas, kortikosteroid sistemik dapat dipertimbangkan.

Referensi :

  1. https://archpublichealth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s13690-021-00783-1
  2. https://journal.uc.ac.id/index.php/PMJ/article/view/4235
  3. https://thepharmadaily.com/courses/pharmacovigilance-quiz/what-is-an-adverse-drug-reaction-adrhttps://thepharmadaily.com/courses/pharmacovigilance-quiz/what-is-an-adverse-drug-reaction-adr
  4. https://www.medicineslearningportal.org/2018/05/adverse-reactions-suggested-questions.html
  5. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK599521
  6. (Sumber gambar : https://thepharmadaily.com/courses/pharmacovigilance-quiz/what-is-an-adverse-drug-reaction-adr)
Read moreMedscape: Asisten Pribadi Apoteker di Era Digital

Penulis : Maulidiah_22416248201081_FM22A_Farmasi UBP Karawang

Berita, Informatika Kesehatan, Uncategorized

Post navigation

Previous Post: Informatika dalam Optimalisasi Dosis Obat  
Next Post: Teknologi Cloud dalam Manajemen Data Farmasi

Related Posts

  • Regulasi dan Keamanan Informasi Kunci Sukses Penelitian Farmasi Digital AI dalam Kesehatan
  • Tepat Waktu, Tepat Dosis: Inovasi Pengingat Digital yang Mengubah Hidup Pasien Alat dan Perangkat Farmasi
  • Pengembangan Sistem Deteksi Denyut Jantung : Penerapan Remote Photoplethysmography melalui Kamera Webcam Visualisasi Grafik Real-time untuk Pendeteksian Dini Gangguan Detak Jantung AI dalam Kesehatan
  • Basis Data DDInter Pada Interaksi Obat Untuk Mencegah Efek Samping yang Fatal Uncategorized
  • PERAN SMARTWATCH DALAM REVOLUSI KESEHATAN DIGITAL: PEMANTAUAN KESEHATAN JADI LEBIH MUDAH Uncategorized
  • Computer – Based Pharmacokinetic Modeling (Pemodelan Farmakokinetik Berbasis Komputer) AI dalam Kesehatan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Dosen IPB University Kenalkan Jamu Ternak untuk Domba dalam Pelatihan Kesehatan Ternak Berbasis Kearifan Lokal
  • PEMANFAATAN MOBILE HEALTH APPS UNTUK EDUKASI PASIEN
  • PERAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE DALAM PREDIKSI EFEK SAMPING OBAT
  • Analisis Data Epidemiologi untuk Prediksi Kebutuhan Obat
  • Integrasi Sistem Informasi Klinik untuk Optimasi Terapi (Integration of Clinical Information Systems for Therapy Optimization)
  • AI dalam Kesehatan
  • Alat dan Perangkat Farmasi
  • Aplikasi Mobile
  • Berita
  • E-Learning Farmasi
  • Edukasi Farmasi
  • Informatika Kesehatan
  • Inovasi Farmasi
  • Opini
  • Pengembangan Obat Baru
  • Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran
  • Review produk dan aplikasi
  • Riset dan Pengembangan
  • Studi Klinis Berbasis Data
  • Teknologi Digital Farmasi
  • Teknologi Produksi
  • Telemedicine
  • Uncategorized
  • Virtual Reality & Simulasi

    Quick Link

    Archives

    • July 2025
    • November 2024
    • October 2024

    Categories

    • AI dalam Kesehatan
    • Alat dan Perangkat Farmasi
    • Aplikasi Mobile
    • Berita
    • E-Learning Farmasi
    • Edukasi Farmasi
    • Informatika Kesehatan
    • Inovasi Farmasi
    • Opini
    • Pengembangan Obat Baru
    • Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran
    • Review produk dan aplikasi
    • Riset dan Pengembangan
    • Studi Klinis Berbasis Data
    • Teknologi Digital Farmasi
    • Teknologi Produksi
    • Telemedicine
    • Uncategorized
    • Virtual Reality & Simulasi
    • PERAN BIOINFORMATIKA DALAM PENEMUAN TARGET MOLEKUL Pengembangan Obat Baru
    • Telefarmasi: Inovasi dalam Pelayanan Kefarmasian di Era Digital Berita
    • Penerapan Teknologi Informasi dalam Mengelola Risiko di Industri Farmasi Alat dan Perangkat Farmasi
    • APLIKASI WEARABLE DEVICES UNTUK PEMANTAUAN EFEK OBAT AI dalam Kesehatan
    • Analisis Pasar Farmasi dengan Algoritma Machine Learning Aplikasi Mobile
    • PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE DALAM BIDANG KESEHATAN AI dalam Kesehatan
    • Pendekatan Machine Learning Dalam Prediksi Efek Samping Obat Uncategorized
    • Peran Bioinformatika dalam Penemuan Target Molekul AI dalam Kesehatan

    Social Media

    • Youtube
    • Tiktok
    • Instagram

    Kontak Kami

    farmasi universitas buana perjuangan karawang alamatnya Jl. HS. Ronggo Waluyo, Sirnabaya, Telukjambe Timur, Karawang

    Kontribusi Artikel

    • Formulir Submit Artikel
    • Format Artikel

    Copyright © 2026 Farmasi Digital.

    Powered by PressBook News WordPress theme