Sumber: https://medpak.com/pharmaceutical-supply-chain-management/
Rantai pasok farmasi mencakup berbagai tahap, mulai dari pengadaan bahan baku hingga obat sampai ke tangan konsumen. Sistem ini cukup rumit karena produk farmasi memiliki sifat khusus, seperti harus disimpan pada suhu tertentu, masa simpan yang terbatas, dan tunduk pada aturan yang ketat. Untuk memastikan obat selalu tersedia dan proses berjalan lancar, diperlukan pengelolaan yang hati-hati dan strategi khusus. Keberhasilan sistem ini juga bergantung pada keterbukaan informasi dan kerja sama antara pemasok, produsen, hingga distributor. Dengan memanfaatkan teknologi informatika, proses ini bisa menjadi lebih efisien, seperti melalui pemantauan data secara langsung, memperkirakan kebutuhan obat, dan mengidentifikasi risiko lebih awal agar masalah bisa dicegah.
Beberapa contoh teknologi informatika seperti RFID (Radio Frequency Identification) dan Blockchain memiliki peran yang penting dalam pengelolaan rantai pasok farmasi. Dengan RFID, produk dapat dilacak dan dipantau secara langsung dan real-time, yang membuat proses distribusi lebih efisien, tepat, dan transparan. Teknologi ini membantu perusahaan farmasi untuk memantau posisi dan kondisi produk, mengurangi kesalahan dalam pencatatan persediaan, serta menghindari masalah seperti kehilangan atau salah kirim obat. Sementara itu, Blockchain memastikan bahwa setiap produk yang beredar tetap aman dan asli dengan mencatat semua transaksi dalam sistem yang terlindungi dan tidak bisa diubah, sehingga memudahkan pelacakan jejak produk. Hal ini sangat efektif untuk menghindari pemalsuan obat dan menjamin kualitas produk yang diterima konsumen. Penerapan kedua teknologi ini dapat mengoptimalkan pengelolaan stok, meningkatkan transparansi, dan memastikan kualitas produk, sehingga memperkuat rantai pasok yang lebih aman.
Namun, penerapan teknologi informatika dalam rantai pasok farmasi menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah kesulitan dalam menggabungkan data yang tersebar di berbagai sistem yang berbeda dan memastikan keamanan informasi yang sangat sensitif. Selain itu, penerapan teknologi seperti RFID dan blockchain memerlukan biaya yang cukup besar dan sumber daya yang terbatas, serta pelatihan bagi karyawan untuk mengoperasikan teknologi tersebut. Produk farmasi yang membutuhkan pengawasan suhu secara ketat juga menambah tantangan dalam mengimplementasikan teknologi pemantauan real-time. Selain itu, penggunaan sistem berbasis cloud untuk pengelolaan distribusi obat dapat menimbulkan risiko kebocoran atau manipulasi data, sehingga diperlukan langkah-langkah untuk menjaga keamanan data dengan lebih ketat.
Penulis: Nadia Amelia – 22416248201092 – FM22B – Farmasi UBP Karawang
Referensi:
Adeleke Damilola Adekola, & Samuel Ajibola Dada. (2024). Optimizing pharmaceutical supply chain management through AI-driven predictive analytics: A conceptual framework. Computer Science & IT Research Journal, 5(11), 2580-2593. https://doi.org/10.51594/csitrj.v5i11.1709
Hailu, R., Gizaw, T., Berhanu, N., Mulugeta, T., Boche, B., & Gudeta, T. (2023). Exploring the role of ICT in pharmaceutical supply chain practices and operational performance in Ethiopia: a structural equation modeling approach. BMC Health Serv Res 23, 634. https://doi.org/10.1186/s12913-023-09627-w
Sodik, J. J., & Sahroni, A. K. (2024). Integrasi Teknologi di Gudang Farmasi: Tantangan dan Peluang untuk Meningkatkan Kualitas dan Keamanan Obat. An-Najat, 2(2), 238-248.
Sumber: https://www.hashmicro.com/id/blog/sop-gudang-farmasi/
