
Sumber: Mursmedic https://mursmedic.com/apa-saja-manfaat-pencetakan-3d-di-bidang-kesehatan/
Teknologi 3D printing telah menjadi salah satu inovasi terpenting dalam industri farmasi, memungkinkan pembuatan obat yang disesuaikan dengan kebutuhan individual pasien. Dengan metode ini, obat dapat dicetak sesuai dengan dosis, bentuk, dan karakteristik rilis yang diinginkan, memberikan solusi yang lebih tepat untuk berbagai kondisi medis. Proses ini menggabungkan desain berbantuan komputer (CAD) dengan pencetakan lapis demi lapis, sehingga memungkinkan produksi obat kustom yang lebih efisien dan efektif.
Salah satu keunggulan utama dari 3D printing adalah kemampuannya untuk menghasilkan obat dengan profil rilis yang disesuaikan. Misalnya, tablet dapat dirancang untuk melepaskan bahan aktif secara bertahap atau cepat, tergantung pada kebutuhan terapeutik pasien. Hal ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan efektivitas pengobatan dan mengurangi risiko efek samping akibat dosis yang tidak tepat. Dengan teknologi ini, dokter dan apoteker dapat merancang obat yang secara spesifik memenuhi kebutuhan pasien, seperti dosis yang lebih rendah bagi anak-anak atau bentuk yang lebih mudah ditelan bagi orang lanjut usia.

Sumber: Freepik https://www.freepik.com/free-photos-vectors/3d-printing-medical
Selain itu, 3D printing juga menawarkan fleksibilitas dalam menciptakan bentuk obat yang inovatif. Untuk pasien yang kesulitan menelan tablet atau kapsul, obat dapat dicetak dalam bentuk yang lebih mudah dikonsumsi, seperti strip larut atau tablet yang cepat larut dalam air. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan pasien tetapi juga mendorong kepatuhan terhadap pengobatan, karena pasien lebih cenderung mengonsumsi obat yang mudah diambil.
Dalam konteks produksi, teknologi 3D printing dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya. Dibandingkan dengan metode tradisional yang memerlukan produksi massal, 3D printing memungkinkan pembuatan obat sesuai permintaan. Hal ini mengurangi pemborosan bahan baku dan waktu produksi. Dengan adanya printer 3D di apotek atau rumah sakit, proses pengadaan obat menjadi lebih cepat dan responsif terhadap kebutuhan pasien.
Namun, penerapan teknologi ini tidak tanpa tantangan. Regulasi terkait produksi obat menggunakan 3D printing masih dalam tahap pengembangan di banyak negara. Badan pengawas seperti FDA di Amerika Serikat telah memberikan persetujuan untuk beberapa produk obat cetak 3D, namun masih diperlukan kerangka kerja yang jelas untuk memastikan keamanan dan efektivitas produk tersebut. Hal ini penting untuk mencegah potensi penyalahgunaan teknologi serta memastikan bahwa produk akhir memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.
Meskipun demikian, masa depan 3D printing dalam farmasi terlihat menjanjikan. Penelitian terus dilakukan untuk mengeksplorasi potensi penggunaan teknologi ini dalam menciptakan obat-obatan yang lebih kompleks dan efektif. Kombinasi antara kecerdasan buatan (AI) dan 3D printing juga berpotensi meningkatkan proses desain dan produksi obat, memastikan kualitas dan keamanan produk akhir.
Secara keseluruhan, inovasi 3D printing dalam farmasi membuka jalan bagi pendekatan baru dalam pengobatan yang lebih personal dan efektif. Dengan kemampuan untuk mencetak obat sesuai kebutuhan pasien secara real-time, teknologi ini berpotensi merevolusi cara kita memproduksi dan mendistribusikan obat di masa depan.
Penulis: Nazwa Mutiara Wulandari, Fakultas Farmasi, UBP Karawang
Referensi:
- https://www.batumenyan.desa.id/7-pembuatan-obat-terbaru-cetak-3d-obat-kustom/
- https://vmedis.com/teknologi-terbaru-dalam-industri-farmasi/
- https://www.pcplus.co.id/2015/08/3d-printing-masuk-farmasi-amankah-obat-hasil-cetaknya/
- https://www.jagatreview.com/2012/10/racik-obat-dengan-teknologi-3d-printing/
- https://kedokteran.ubaya.ac.id/2024/04/25/perkembangan-3d-printing-di-dunia-kesehatan/
Penulis: Nazwa Mutiara W. – FM22C – Farmasi UBP Karawang
